iNews FootBall – Pelatih legendaris Carlo Ancelotti menilai Liga Champions Eropa kini mulai kehilangan pesonanya. Menurutnya, turnamen paling bergengsi di Benua Biru itu semakin monoton dan tidak seketat dulu.
Ancelotti, yang kini menangani Timnas Brasil setelah meninggalkan Real Madrid pada musim panas 2025, berbicara dari sudut pandang seorang penonton luar. Ia sudah lima kali memenangkan kompetisi tersebut, baik bersama AC Milan maupun Madrid. “Dilihat dari luar Eropa, Liga Champions selalu punya favorit yang sama: Real Madrid, PSG, Manchester City, dan Bayern Munchen,” ujar Ancelotti kepada Tuttosport.
Ia menambahkan, terlalu banyak laga dengan selisih skor besar membuat publik kehilangan minat. “Fase awal yang diperluas seharusnya membuat kompetisi lebih menarik, tetapi nyatanya tidak demikian,” katanya.
Format Baru, Daya Saing Justru Menurun
Musim ini, Liga Champions memakai format baru dengan 36 tim dan sistem Swiss. Setiap klub memainkan delapan laga fase liga, bukan enam seperti sebelumnya. Namun, menurut Ancelotti, perubahan itu justru menurunkan daya saing kompetisi.
“Masalahnya bukan pada format, tapi pada kesenjangan finansial antara klub besar dan kecil,” jelasnya. Enam klub Inggris langsung tampil di fase grup tanpa melalui play-off. Dalam beberapa hari terakhir, mereka mencatat lima kemenangan dan satu hasil imbang, mencetak 16 gol dan hanya kebobolan tiga kali.
Dominasi finansial Premier League membuat klub-klub Inggris hampir tak tersentuh. “Menghadapi tim Eropa non-elite kini terasa lebih mudah daripada tandang ke Craven Cottage,” ujar Ancelotti dengan nada sindiran.
“Baca Juga : Alvaro Benito Soroti Era Transisi Real Madrid Usai Kekalahan dari Liverpool”
Liga Besar Diuntungkan, yang Kecil Tergusur
Kebijakan UEFA menambah dua slot untuk liga dengan koefisien terbaik setelah gagalnya proyek European Super League justru memperlebar jurang persaingan. Aturan ini semakin menguntungkan liga besar seperti Inggris, Spanyol, Jerman, dan Italia yang sudah memiliki empat tiket otomatis.
Dari 36 peserta fase liga, sebanyak 19 klub berasal dari empat negara tersebut. “Pertandingan seperti Newcastle melawan Athletic Bilbao atau Tottenham menghadapi Villarreal kini terasa seperti perempat final Liga Europa yang dinaikkan levelnya,” ujar Ancelotti.
Ia menilai, keputusan itu mengorbankan juara-juara dari liga kecil seperti Austria, Kroasia, Polandia, Serbia, dan Swiss. Padahal, tim dari pinggiran Eropa seperti Bodo/Glimt atau Qarabag sering membawa kejutan yang menjadi warna sejati Liga Champions.
Nostalgia Era Emas Liga Champions
Sebagai sosok yang akrab dengan Liga Champions, Ancelotti punya pandangan emosional terhadap perubahan kompetisi ini. Ia pernah mengangkat trofi “Si Kuping Besar” lima kali, dua bersama AC Milan dan tiga bersama Real Madrid.
“Dulu setiap pertandingan punya ketegangan tinggi. Setiap gol bisa menentukan sejarah klub,” ujarnya. Menurutnya, kini terlalu banyak laga, terlalu banyak uang, tetapi kurang emosi.
Ia mengingat momen klasik seperti Milan vs Liverpool atau Barcelona vs Chelsea yang sarat drama dan rivalitas. “Sekarang semuanya terasa seperti jadwal industri, bukan pertarungan gengsi antarnegara sepak bola,” katanya, menggambarkan hilangnya jiwa kompetitif yang dulu jadi daya tarik Liga Champions.
“Simak Juga : Arsenal FC Evolusi Strategi Bola Mati yang Mengubah Wajah Permainan Modern”
UEFA Dianggap Kehilangan Arah
UEFA pernah mengubah format Liga Champions pada musim 2003/2004 dengan menghapus fase grup kedua karena kelelahan pemain dan menurunnya minat penonton. Namun, dua dekade kemudian, format besar kembali diberlakukan dengan alasan modernisasi.
“UEFA mencoba membuat kompetisi lebih ramai, tapi melupakan esensi sepak bola: kualitas,” tegas Ancelotti. Ia berpendapat, kompetisi ideal harus menjaga keseimbangan antara kekuatan finansial dan keberagaman klub.
Jika Liga Champions terus dikuasai klub kaya, penonton akan mencari kejutan di tempat lain, seperti di Liga Europa atau bahkan turnamen antarklub Asia yang kini mulai menarik perhatian dunia.
Harapan Ancelotti untuk Sepak Bola Eropa
Sebagai pelatih yang pernah berkarier di lima liga top Eropa, Ancelotti berharap dunia sepak bola tidak dikuasai sepenuhnya oleh uang. Ia percaya, keindahan sejati sepak bola terletak pada kemungkinan kecil yang mampu menumbangkan raksasa.
“Sepak bola adalah kisah tentang mimpi. Jika yang kuat selalu menang, keajaiban tidak akan pernah lahir lagi,” ucapnya.
Kini, dari kursi pelatih Timnas Brasil, Ancelotti memandang Liga Champions dengan rasa nostalgia dan keprihatinan. Ia berharap, suatu hari kompetisi ini bisa kembali ke akarnya tempat di mana setiap klub, besar atau kecil, punya kesempatan yang sama untuk menulis sejarah di panggung Eropa.